LAMANINDO.COM, BATAUGA – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Buton Selatan bersama Perum Bulog Cabang Baubau memastikan ketersediaan stok pangan di wilayah tersebut dalam kondisi aman dan mencukupi hingga tiga tahun ke depan. Pemerintah juga menegaskan tidak ada ketimpangan distribusi antara wilayah daratan dan kepulauan.
Asisten II Sekretariat Daerah Buton Selatan, Meizat Amril Tamim, didampingi Kepala Dinas Ketahanan Pangan La Ode Muhamad Idris, menyampaikan bahwa seluruh tujuh kecamatan telah memiliki jadwal penyaluran bantuan pangan yang terstruktur dan merata.
Ia menjelaskan, distribusi sempat lebih intensif di wilayah daratan menjelang Idulfitri akibat pertimbangan teknis dan koordinasi. Namun, pasca-Lebaran, penyaluran kini difokuskan ke wilayah kepulauan.
“Hari ini Bulog sudah mendistribusikan ke wilayah kepulauan, dan besok penyaluran dilanjutkan di Kecamatan Kadatua,” ujar Amril, Kamis (26/3/2026).
Program yang tengah berjalan merupakan Bantuan Pangan Nasional yang diberikan secara gratis kepada masyarakat, berbeda dengan program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) yang bersifat komersial dengan harga terjangkau.
Kepala Dinas Ketahanan Pangan, La Ode Muhamad Idris, merinci bahwa setiap kepala keluarga (KK) penerima manfaat memperoleh alokasi untuk periode Februari dan Maret berupa 20 kilogram beras (10 kilogram per bulan) serta 4 liter minyak goreng (2 liter per bulan).
Jumlah penerima manfaat pada tahun ini juga mengalami peningkatan signifikan. Amril mencatat, penerima bantuan melonjak 100 persen dari sebelumnya 6.900 KK menjadi 13.545 KK. Sementara itu, data Bulog menunjukkan total penerima manfaat di wilayah Buton Selatan mencapai sekitar 27.000 orang.
Kepala Bulog Cabang Baubau, Ritno, memastikan ketahanan stok pangan di wilayah Sulawesi Tenggara dalam kondisi sangat kuat, dengan ketersediaan mencapai sekitar 70.000 ton.
“Ketahanan stok ini bahkan diperkirakan mampu mencukupi hingga tiga tahun ke depan, sehingga masyarakat tidak perlu khawatir terhadap potensi gejolak pasokan,” kata Ritno.
Ia menambahkan, kualitas beras yang disalurkan merupakan kategori medium yang telah melalui proses sortir dua tahap guna menjamin kelayakan konsumsi.
Selain memastikan ketersediaan, Bulog juga mengintensifkan pengawasan terhadap stabilitas harga di pasar agar tetap sesuai dengan Harga Eceran Tertinggi (HET). Untuk beras SPHP, HET ditetapkan sebesar Rp12.500 per kilogram, sedangkan minyak goreng Rp15.700 per liter.
Terkait potensi penurunan kualitas beras akibat faktor cuaca atau kelembapan selama distribusi, Bulog telah melakukan langkah mitigasi. Masyarakat juga diimbau untuk segera melaporkan apabila menemukan beras yang tidak layak konsumsi. (sr)
