Kamis , 5- Februari - 2026
BerandaDAERAHButon SelatanSerli dan Waktu yang Terus Berlari: Harapan Kecil dari Siompu untuk Sebuah...

Serli dan Waktu yang Terus Berlari: Harapan Kecil dari Siompu untuk Sebuah Rujukan ke Makassar

DI SEBUAH RUANG perawatan RSUD Palagimata, Kota Baubau, tubuh kecil Serli terbaring lemah. Selang oksigen menempel di wajahnya, menjadi satu-satunya penopang napas bocah tujuh tahun asal Desa Nggula-nggula, Kecamatan Siompu, Kabupaten Buton Selatan itu. Tak ada lagi suara ceria, tak terdengar panggilan “Mama” yang dulu kerap meluncur dari bibir mungilnya. Yang tersisa kini hanya rintihan lirih dan sepasang mata orang tua yang tak henti menahan cemas.

Serli didiagnosis mengalami penyumbatan pembuluh darah di otak. Kondisinya kritis dan membutuhkan penanganan medis lanjutan oleh dokter spesialis saraf. Namun hingga hari ini, waktu seakan berlari lebih cepat dibanding kepastian rujukan yang dinanti keluarganya.

Semua bermula dari demam tinggi yang disertai kejang selama hampir satu jam. Ibunya, Yatri, masih mengingat jelas kepanikan hari itu. Serli segera dibawa ke Puskesmas setempat sebelum akhirnya dirujuk ke RSUD Gajah Mada Buton Selatan. Enam hari lamanya Serli menjalani perawatan intensif. Saat dinyatakan pulih dan diperbolehkan pulang, secercah harapan sempat menyelimuti keluarga kecil itu.

Namun harapan itu hanya bertahan tiga hari.

Pada suatu pagi, sekitar pukul 08.00 Wita, Serli masih dapat berbicara seperti biasa. Satu jam kemudian, kondisinya berubah drastis. Kata-kata tak lagi mampu keluar dari mulutnya. Demam kembali tinggi. Tubuhnya melemah.

“Jam delapan pagi masih bisa bicara normal. Tapi jam sembilan, dia sudah tidak bisa bicara lagi sampai sekarang,” tutur Yatri dengan suara bergetar, Kamis (5/2/2025).

Serli kemudian dilarikan ke RSUD Palagimata pada 28 Januari 2025. Selama tiga hari pertama dirawat, kejanggalan lain muncul. Bocah itu tak mampu memejamkan mata, bahkan untuk sekadar tidur. Hari demi hari berlalu, kondisinya semakin menurun. Kini, Serli hanya merespons lewat rintihan halus. Tubuhnya sepenuhnya bergantung pada bantuan oksigen.

“Paling hanya rintihan. Panggil Mama pun sudah tidak bisa lagi,” ujar Yatri lirih.

Sembilan hari sudah Serli menjalani perawatan di RSUD Palagimata. Hasil pemeriksaan menunjukkan adanya penyumbatan pembuluh darah di otak kondisi yang tak bisa ditangani secara optimal tanpa fasilitas dan keahlian khusus. Rujukan ke Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Dr. Wahidin Sudirohusodo, Makassar, menjadi satu-satunya jalan.

Namun hingga kini, keluarga masih menunggu kepastian. Permohonan ketersediaan ruang perawatan telah diajukan, tetapi belum ada balasan resmi. Tak ada tanggal pasti. Tak ada jaminan kapan Serli bisa segera ditangani.

Kecemasan Yatri dan suaminya, Irsat, kian memuncak. Anak semata wayang mereka tak memungkinkan untuk menunggu lama di penginapan atau indekos. Serli tak bisa dilepaskan dari oksigen, bahkan untuk perjalanan sekalipun.

“Kami tidak bisa menunggu di kos-kosan. Begitu sampai di Makassar, dia harus langsung masuk rumah sakit,” kata Yatri.

Di tengah keterbatasan dan ketidakpastian itu, keluarga Serli menggantungkan harapan pada uluran tangan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Buton Selatan. Mereka berharap Bupati dapat turun tangan memfasilitasi percepatan rujukan, memastikan seluruh proses administrasi dan koordinasi berjalan tanpa hambatan.

Waktu bagi Serli bukan lagi hitungan hari, melainkan detik. Di balik selang oksigen dan suara mesin medis, ada seorang anak yang tengah berjuang mempertahankan hidupnya dan orang tua yang hanya berharap satu hal sederhana: kesempatan untuk sembuh. (***)

RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Populer