LAMANINDO.COM, BATAUGA – Sejumlah sekolah di Kecamatan Siompu dan Siompu Barat, Kabupaten Buton Selatan, menerima bantuan Papan Interaktif Digital (PID). Namun fasilitas canggih tersebut justru tak bisa digunakan akibat krisis kelistrikan yang masih megap-megap.
Bahkan, ​kondisi pasokan listrik yang tidak stabil membuat berbagai sarana media pembelajaran digital bantuan pemerintah itu kini mangkrak di sekolah.
Anggota DPRD Buton Selatan, Pomili Womal mengungkapkan, persoalan krisis listrik ini berdampak langsung pada operasional fasilitas penunjang belajar dari tingkat dasar hingga atas di Pulau Siompu.
“Dengan listriknya yang belum menyala, belum memenuhi penerangan untuk 24 jam, maka secara otomatis alat-alat media pembelajaran itu sampai hari ini belum bisa digunakan,” ungkap Pomili kepada wartawan, Rabu (4/11/2026).
Politisi Partai Demokrat itu menilai, pengadaan bantuan PID mestinya diimbangi dengan survei lapangan yang matang oleh Dinas Pendidikan. Ia menyayangkan penyaluran perangkat digital dilakukan tanpa melihat kesiapan infrastruktur dasar di wilayah sasaran.
Bahkan di Kecamatan Siompu dan Siompu Barat yang membawahi 18 desa, sistem kelistrikan masih mengandalkan giliran. Pemadaman total berhari-hari juga acap kali terjadi.
Dampak krisis listrik ini dirasakan langsung oleh jajaran kepala sekolah dari tingkat TK hingga SMP di Siompu Barat. Aktivitas belajar berbasis elektronik kelimpungan.
Salah seorang kepala sekolah yang enggan disebutkan namanya mengaku terpaksa meminjam genset untuk menyalakan perangkat sekolah. Pasalnya, genset inventaris sekolah telah rusak dan belum bisa diperbaiki karena kendala biaya.
“Kami dihadapkan juga pada aturan teknis yang mewajibkan penggunaan stabilizer agar perangkat tidak cepat rusak. Tapi keterbatasan anggaran membuat sekolah kesulitan mengadakan alat itu,” tuturnya.
Masalah makin pelik karena jam operasional PLN di wilayah tersebut baru dimulai pukul 15.00 WITA hingga 06.00 WITA. Pola giliran ini dinilai sangat tidak efektif untuk mendukung jam belajar sekolah yang berlangsung pagi hingga siang hari.
Pihak sekolah pun meminta PLN melakukan penyesuaian jadwal penyalaan agar pasokan daya bisa dirasakan optimal oleh sektor pendidikan.
“Sore hari digeser ke malam hari agar pemanfaatan daya listrik bisa lebih maksimal bagi masyarakat dan fasilitas pendidikan,” pintanya.
Meski aspirasi ini sudah disampaikan ke OPD terkait hingga manajemen PLN, namun hingga kini belum ada respons maupun penyesuaian teknis di lapangan.
Oleh karena itu, instansi terkait diharapkan segera turun tangan menyelesaikan krisis listrik di Pulau Siompu, serta memindahkan unit PID yang baru dirakit akhir Oktober lalu ke lokasi aman mengingat kapasitas penyimpanan sekolah yang minim. (sr)
