LAMANINDO.COM, PASARWAJO — Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Buton bersama unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), tokoh adat, serta masyarakat Kelurahan Takimpo dan Kelurahan Kombeli, Kecamatan Pasarwajo, resmi memperkuat komitmen perdamaian. Ikhtiar merajut kembali persatuan ini diwujudkan melalui prosesi adat Piagoa dan Deklarasi Damai yang digelar di Jalan Poros depan Indomaret, dekat pintu gerbang Kelurahan Kombeli, Senin (26/10/2026).
Langkah tegas ini diambil untuk mengakhiri konflik yang kerap terjadi sekaligus merobohkan sekat antarkelompok. Pemerintah daerah berharap momen ini menjadi titik balik agar generasi muda di kedua wilayah dapat tumbuh dalam lingkungan yang aman, kondusif, dan saling menghormati.

Jangan Jadi Seremoni Belaka
Bupati Buton, Alvin Akawijaya Putra, menegaskan bahwa kesepakatan damai yang telah diteken tidak boleh sekadar berhenti pada seremoni seremonial semata. Ia meminta komitmen tersebut benar-benar diresapi dan diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari oleh seluruh elemen masyarakat, khususnya para pemuda.
“Penandatanganan ikrar perdamaian ini jangan sampai hanya menjadi seremoni tanpa makna. Saya berharap ini menjadi yang terakhir, sehingga kita tidak perlu lagi mengulang kegiatan serupa karena persoalan perang adat atau perang antarkelompok,” tegas Alvin.
Alvin tak menampik bahwa pemerintah tidak ingin terus-menerus menguras waktu, tenaga, serta anggaran hanya untuk menyelesaikan konflik horizontal yang semestinya bisa dicegah bersama. Ia pun mewanti-wanti, apabila komitmen ini kembali dikhianati, pihak berwenang tak ragu mengambil langkah hukum dan tindakan tegas sesuai regulasi yang berlaku.
Tak lupa, Bupati turut mendorong para tokoh adat untuk terus menjadi garda terdepan dalam membimbing generasi muda. Menurutnya, ketegasan pemerintah bukanlah bentuk sentimen terhadap masyarakat, melainkan jaminan agar anak-anak Buton bisa fokus mengenyam pendidikan, berkarya, dan menyongsong masa depan gemilang.

Sinergi Penegak Hukum: Cegah Konflik Berujung Pidana
Senada dengan Bupati, Kepala Kejaksaan Negeri (Kajari) Buton, Sterry Fendy Andih, mengapresiasi para tokoh adat Takimpo dan Kombeli yang berjiwa besar untuk berdamai. Kajari mengingatkan bahwa gesekan sosial yang dibiarkan justru akan merugikan masa depan anak-cucu.
“Kalau ada persoalan pribadi, kita berharap dapat diselesaikan melalui ruang yang tepat, mulai dari keluarga hingga lembaga adat. Kita ingin masyarakat hidup aman, tanpa rasa takut atau khawatir ketika beraktivitas,” ujar Sterry.
Sementara itu, Kapolres Buton, AKBP Ali Rais Ndraha, mengajak warga untuk menjadikan gesekan masa lalu sebagai pelajaran berharga. Ia meminta energi masyarakat dialihkan pada hal-hal yang jauh lebih produktif, seperti peningkatan kualitas pendidikan dan pemulihan ekonomi daerah.
“Jangan sampai generasi muda kita terus dibebani persoalan masa lalu yang tidak perlu diwariskan. Mereka harus kita persiapkan agar mampu bersaing, berkarya, and membawa nama baik Buton,” ucap Kapolres.

Lindungi Mental dan Fisik Anak-Anak
Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Buton, La Ode Syamsudin, menambahkan bahwa prosesi Piagoa dan Deklarasi Damai merupakan bentuk perlindungan nyata bagi anak-anak dari ancaman trauma fisik maupun psikologis akibat konflik.
“Ini ikhtiar kita agar anak-anak tidak tercederai, baik perasaan, jiwa, maupun fisiknya. Kita ingin mereka tumbuh dengan semangat saling mencintai, menyayangi, menjaga, dan melindungi,” tutur birokrat yang akrab disapa Jenderal ASN ini.
Rangkaian acara yang sarat makna kekeluargaan ini diawali dengan ritual adat Piagoa oleh perangkat adat kedua kelurahan sebagai simbol pembersihan diri, pembuangan kebencian, dan rekonsiliasi sosial. Acara kemudian ditutup dengan penandatanganan naskah Deklarasi Damai.
Turut hadir menyaksikan momen bersejarah ini, Ketua Pengadilan Negeri Pasarwajo Ivan Budi Hartanto, jajaran Kepala OPD, Camat Pasarwajo, para lurah terkait, serta perwakilan Forum Anak Kabupaten Buton. (sr)
