BerandaDAERAHBaubauJembatan Biru Puma-Baubau Makin Goyang dan Keropos, Warga Desak Pemkot Bertindak

Jembatan Biru Puma-Baubau Makin Goyang dan Keropos, Warga Desak Pemkot Bertindak

LAMANINDO.COM, BAUBAU – Kondisi Jembatan Biru yang menghubungkan Pulau Makasar, khususnya kawasan Puma, dengan Kelurahan Lowulowu atau daratan Kota Baubau, Sulawesi Tenggara, mulai memprihatinkan. Setelah sekitar satu dekade beroperasi, jembatan yang menjadi akses utama warga tersebut disebut mengalami kerusakan pada sejumlah bagian dan membutuhkan penanganan segera.

Jembatan Biru resmi diresmikan pada 5 Juli 2017 pada masa pemerintahan Gubernur Sulawesi Tenggara Nur Alam. Namun, warga disebut telah memanfaatkan akses tersebut sejak 2016 karena menjadi jalur tercepat menuju pusat Kota Baubau.

Sebelum jembatan dibangun, warga Puma harus mengandalkan perahu jonson dan katinting untuk beraktivitas menuju Baubau.

Kini, keberadaan Jembatan Biru tidak hanya menjadi akses transportasi, tetapi juga menjadi jalur penting yang menopang aktivitas ekonomi masyarakat Pulau Makasar.

Tokoh pemuda Kelurahan Sukanaeyo, Ali Iskandar Majid, mengatakan hampir setiap hari jembatan tersebut dilintasi berbagai jenis kendaraan, mulai dari mobil pikap, angkutan umum hingga kendaraan pribadi.

“Jembatan Biru adalah satu-satunya jalur penghubung Puma dan Baubau. Sudah seharusnya Pemkot Baubau segera melakukan perbaikan untuk menghindari hal-hal yang tidak kita inginkan,” kata Ali saat ditemui, Selasa (18/8/2026).

Ali menyebut kondisi jembatan semakin mengkhawatirkan karena kerusakan terjadi dari tahun ke tahun. Bahkan, badan jembatan disebut terasa bergoyang ketika dilintasi kendaraan roda empat.

Menurut dia, salah satu persoalan yang terlihat adalah kondisi sejumlah tiang penyangga yang terkikis air laut dan mulai mengalami pengeroposan.

Selain itu, beberapa besi pembatas jembatan juga disebut telah hilang diduga dicuri. Kondisi tersebut membuat sisi jembatan menjadi kurang aman bagi pengendara yang melintas.

“Kalau dibiarkan tanpa perbaikan ringan maupun pemugaran, ini bisa membahayakan pengendara dan mengancam keberlangsungan jembatan itu sendiri,” tegasnya.

Warga Pulau Makasar mengaku telah beberapa kali menyampaikan keluhan terkait kondisi Jembatan Biru kepada pihak legislatif maupun eksekutif. Namun, hingga Agustus 2026, warga mengaku belum mendapatkan kepastian mengenai waktu pelaksanaan perbaikan.

Mereka berharap Pemkot Baubau segera melakukan pemeriksaan menyeluruh terhadap kondisi jembatan sekaligus menentukan langkah penanganan.

Pasalnya, Jembatan Biru kini menjadi infrastruktur vital bagi mobilitas masyarakat Puma dan sekitarnya. Warga khawatir kerusakan yang tidak segera ditangani dapat semakin parah dan pada akhirnya mengganggu akses transportasi serta aktivitas perekonomian masyarakat.

Ali juga meminta pemerintah, baik Pemkot Baubau maupun Pemprov Sulawesi Tenggara tidak menunggu hingga terjadi kerusakan yang lebih serius atau kecelakaan baru kemudian mengambil tindakan. (sr)

RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Populer