Wartawan asal Baubau Sukses Raih Gelar Doktor, Angkat Isu Persoalan Etika di Media

0
1027
Doktor, Fahmi Fotaleno, Universitas Sahid, Pascasarjana
Fahmy Fotaleno menerima piagam sebagai tanda kelulusan studi Doktor Ilmu Komunikasi pada Rabu (27/3/2024) di Gedung Pascasarjana Universitas Sahid.

LAMANINDO.COM, JAKARTA – Wartawan asal Kota Baubau Fahmy Fotaleno berhasil meraih gelar doktor di Universitas Sahid Jakarta dengan predikat sangat memuaskan. Hasil ini diumumkan pada sidang promosi yang digelar pada Rabu (27/3/2024), di Gedung Pascarjana Usahid, Sudirman, Jakarta Pusat.

Fino, sapaan akrab Fahmy Fotaleno mengangkat isu terkait persoalan etis atau etika wartawan di era kemajuan teknologi saat ini. Dimana, penerapan kode etik jurnalistik menjadi dilema tersendiri bagi para jurnalis yang dituntut untuk menyajikan berita dengan cepat.

Dalam disertasinya, Fino menemukan masalah dilema jurnalis ini yang kebingungan antara memilih tetap menerapkan prinsip-prinsip etika atau beradaptasi dengan kemajuan teknologi. Posisi sulit ini menempatkan jurnalis pada pilihan yang tidak mudah.

“Jurnalis yang tetap menerapkan prinsip deontologi (etika) harus menerima kenyataan bahwa performa media tempat mereka bekerja menjadi tidak baik. Hal ini dikarenakan, tuntutan penyebatan informasi dengan cepat, sehingga jika menunggu untuk konfirmasi dan berimbang, isu tersebut menjadi tidak hangat lagi,” ujar Fino saat membacakan hasil penelitiannya di hadapan psra penguji.

Pascasarjana, Univesritas Sahid, Fahmi Fotaleno
Fahmy Fotaleno saat dikukuhkan menjadi Doktor Ilmu Komunikasi pada Rabu (27/3/2024) di Gedung Pascasarjana Universitas Sahid.

Olehnya itu, lanjut dia, dapat disimpulkan bahwa, di era kemajuan teknologi saat ini, performa media akan sangat baik jika bisa beradaptasi dengan teknologi itu sendiri dan mengabaikan prinsip deontologi. Sementara performa berita menjadi tidak baik jika adaptasi terhadap teknologi itu diabaikan dan tetap menerapkan prinsip deontologi.

“Dalam konteks ini, pendekatan yang paling efektif mungkin adalah pendekatan yang seimbang antara etika dan moral serta kebebasan teknologi. Media di Indonesia harus tetap bertanggung jawab atas penggunaan teknologi media, sambil juga memastikan kebebasan berekspresi dan inovasi tetap terjaga. Sehingga, kombinasi dari kedua pendekatan ini dapat membantu media dalam menjalankan perannya dengan efektif dalam era teknologi yang terus berkembang,” jelasnya.

Terkhusus, Fino menyampaikan rasa terima kasih kepada para wartawan di Baubau dan Sulawesi Tenggara yang turut mendoakan dan mendukung perjuangannya dalam melanjutkan pendidikan ke jenjang doktoral.

“Terima kasih untuk teman-teman wartawan di Baubau, Aswar, Gunar, Hainis, Sarmini, Yuhandri, Iman, Pak Ramli, Hasrin, Opa Djery dan yang tidak sempat saya sebutkan satu per satu,” ungkapnya.

Fahmy Fotalenk merupakan wartawan yang sudah pernah bekerja di beberapa media baik di daerah maupun nasional seperti Buton Pos, Fajar, Gatra, Okezone dan saat ini menduduki posisi Pemimpin Redaksi Indozone dan juga tenaga pengajar di salah satu universitas swasta di Jakarta. (*)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini